Posted by: Pak Anshori on: 20 October 2009
Selain seorang nabi, Sulaiman a.s. juga seorang raja terkenal. Atas izin Allah ia berhasil menundukkan Ratu Balqis dengan jin ifrit-Nya. Dia dikenal sebagai manusia boleh berdialog dengan segala binatang. Dikisahkan, Nabi Sulaiman sedang berkelana antara langit dan bumi hingga tiba di satu samudera yang bergelombang besar. Untuk mencegah gelombang, ia cukup memerintahkan angin agar tenang, dan tenang pula samudera itu.
Kemudian Nabi Sulaiman memerintahkan jin Ifrit menyelam ke samudera itu sampai ke dasarnya. DI sana jin Ifrit melihat sebuah kubah dari permata putih yang tanpa lubang, kubah itu diangkatnya ke atas samudera dan ditunjukkannya kepada Nabi Sulaiman.
Melihat kubah tanpa lubang penuh permata dari dasar laut itu Nabi Sulaiman menjadi terlalu hairan, “Kubah apakah gerangan ini?” fikirnya. Dengan minta pertolongan Allah, Nabi Sulaiman membuka tutup kubah. Betapa terkejutnya dia begitu melihat seorang pemuda tinggal di dalamnya.
“Siapakah engkau ini? Kelompok jin atau manusia?” tanya Nabi Sulaiman kehairanan.
“Aku adalah manusia”, jawab pemuda itu perlahan.
“Bagaimana engkau boleh memperolehi hidayah semacam ini?” tanya Nabi Sulaiman lagi. Kemudian pemuda itu menceritakan riwayatnya sampai kemudian memperolehi hidayah dari Allah boleh tinggal di dalam kubah dan berada di dasar lautan.
Diceritakan, ibunya dulu sudah tua dan tidak berdaya sehingga dialah yang memapah dan menggendongnya ke mana jua dia pergi. Si anak selalu berbakti kepada orang tuanya, dan ibunya selalu mendoakan anaknya. Salah satu doanya itu, ibunya selalu mendoakan anaknya diberi rezeki dan perasaan puas diri. Semoga anaknya ditempatkan di suatu tempat yang tidak di dunia dan tidak pula di langit.
“Setelah ibuku wafat aku berkeliling di atas pantai. Dalam perjalanan aku melihat sebuah terbuat dari permata. Aku mendekatinya dan terbukalah pintu kubah itu sehingga aku masuk ke dalamnya.” Tutur pemuda itu kepada Nabi Sulaiman.
Nabi Sulaiman yang dikenali boleh berjalan di antara bumi dan langit itu menjadi kagum terhadap pemuda itu.
“Bagaimana engkau boleh hidup di dalam kubah di dasar lautan itu?” tanya Nabi Sulaiman ingin mengetahui lebih lanjut.
“Di dalam kubah itu sendiri, aku tidak tahu di mana berada. Di langitkah atau di udara, tetapi Allah tetap memberi rezeki kepadaku ketika aku tinggal di dalam kubah.”
“Bagaimana Allah memberi makan kepadamu?”
“Jika aku merasa lapar, Allah menciptakan pohon di dalam kubah, dan buahnya yang aku makan. Jika aku merasa haus maka keluarlah air yang teramat bersih, lebih putih daripada susu dan lebih manis daripada madu.”
“Bagaimana engkau mengetahui perbedaan siang dan malam?” tanya Nabi Sulaiman a.s yang merasa semakin hairan.
“Bila telah terbit fajar, maka kubah itu menjadi putih, dari situ aku mengetahui kalau hari itu sudah siang. Bila matahari terbenam kubah akan menjadi gelap dan aku mengetahui hari sudah malam.”
Tuturnya. Selesai menceritakan kisahnya, pemuda itu lalu berdoa kepada Allah, maka pintu kubah itu tertutup kembali, dan pemuda itu tetap tinggal di dalamnya. Itulah hidayah bagi seorang pemuda yang berbakti kepada kedua orang tuanya.
Posted by: Pak Anshori on: 20 October 2009
Rasullullah S.A.W pernah bertanya kepada iblis, “Wahai Iblis! Apakah ikhtiarmu ke atas umatku.Aku telah dibangkitkan utk menyelamatkan semua umat manusia agar beriman kepada Allah S.W.T.”
Jawab Iblis: “Ya Rasullullah, demi kemuliaanmu aku akan bersungguh-sungguh menyesatkan umat manusia dari mengikuti ajaranmu. Aku akan mencampurkan lelaki dengan wanita supaya mudah aku mencelah di tengahnya.”
Tanya Rasullullah lagi: “Wahai Iblis! Apa lagi yang engkau musykilkan?”
Jawab Iblis: “Ya Muhammad! Sebenarnya aku amat hairan dengan sikap umatmu dalam dua perkara iaitu:
Mereka mengakui menyintai Allah S.W.T tetapi pada masa yg sama mereka masih melakukan maksiat dan perbuatan munkar. Kedua, mereka sangat benci akan tabiatku tetapi mereka masih mahu mengikut segala hasutanku.”
Firman Allah kepada Iblis: “Sememangnya engkau adalah makhluk terkutuk, demi kemuliaanKu, akan Aku beriakn kepada umat Muhammad dua kegembiraan iaitu: kecintaan mereka terhadapKu akan Aku jadikan penebus dosa di atas kesalahan yg telah mereka lakukan kerana helahmu. Kedua, marahnya mereka terhadapmu akan Aku jadikan penebus dosa bagi maksiat yg telah mereka lakukan…”
Maka tercenganglah Iblis mendengar penjelasan sedemikian dari Allah S.W.T. Sedarlah Iblis bahawa umat Muhammad adalah umat yang disayangi Allah S.W.T yang Maha Pengampun lagi Maha Mengasihani.
Posted by: Pak Anshori on: 20 October 2009
Abu Hurairah r.a. pernah ditugaskan oleh Rasulullah S.A.W untuk menjaga gudang zakat di bulan Ramadhan. Tiba-tiba muncullah seseorang, lalu mencuri segenggam makanan. Namun kepintaran Hurairah memang patut dipuji, kemudian pencuri itu kemudian berhasil ditangkapnya.
“Akan aku adukan kamu kepada Rasulullah S.A.W,” gertak Abu Hurairah.
Bukan main takutnya pencuri itu mendengar ancaman Abu Hurairah, hingga kemudian ia pun merengek-rengek : “Saya ini orang miskin, keluarga tanggungan saya banyak, sementara saya sangat memerlukan makanan.”
Maka pencuri itu pun dilepaskan. Bukankah zakat itu pada akhirnya akan diberikan kepada fakir miskin ? Hanya saja, cara memang keliru. Mestinya jangan keliru.
Keesokan harinya, Abu Hurairah melaporkan kepada Rasulullah S.A.W. Maka bertanyalah beliau : “Apa yang dilakukan kepada tawananmu semalam, ya Abu Hurairah?”
Ia mengeluh, “Ya Rasulullah, bahawa ia orang miskin, keluarganya banyak dan sangat memerlukan makanan,” jawab Abu Hurairah. Lalu diterangkan pula olehnya, bahawa ia kasihan kepada pencuri itu,, lalu dilepaskannya.
“Bohong dia,” kata Nabi : “Pada hal nanti malam ia akan datang lagi.”
Kerana Rasulullah S.A.W berkata begitu, maka penjagaannya diperketat, dan kewaspadaan pun ditingkatkan.Dan, benar juga, pencuri itu kembali lagi, lalu mengambil makanan seperti kelmarin. Dan kali ini ia pun tertangkap.
“Akan aku adukan kamu kepada Rasulullah S.A.W,” ancam Abu Hurairah, sama seperti kelmarin. Dan pencuri itu pun sekali lagi meminta ampun : “Saya orang miskin, keluarga saya banyak. Saya berjanji esok tidak akan kembali lagi.”
Kasihan juga rupanya Abu Hurairah mendengar keluhan orang itu, dan kali ini pun ia kembali dilepaskan. Pada paginya, kejadian itu dilaporkan kepada Rasulullah S.A.W, dan beliau pun bertanya seperti kelmarin. Dan setelah mendapat jawapan yang sama, sekali lagi Rasulullah menegaskan : “Pencuri itu bohong, dan nanti malam ia akan kembali lagi.”
Malam itu Abu Hurairah berjaga-jaga dengan kewaspadaan dan kepintaran penuh. Mata, telinga dan perasaannya dipasang baik-baik. Diperhatikannya dengan teliti setiap gerak-geri disekelilingnya sudah dua kali ia dibohongi oleh pencuri. Jika pencuri itu benar-benar datang seperti diperkatakan oleh Rasulullah dan ia berhasil menangkapnya, ia telah bertekad tidak akan melepaskannya sekali lagi. Hatinya sudah tidak sabar lagi menunggu-nunggu datangnya pencuri jahanam itu. Ia kesal. Kenapa pencuri kelmarin itu dilepaskan begitu sahaja sebelum diseret ke hadapan Rasulullah S.A.W ? Kenapa mahu saja ia ditipu olehnya ? “Awas!” katanya dalam hati. “Kali ini tidak akan kuberikan ampun.”
Malam semakin larut, jalanan sudah sepi, ketika tiba-tiba muncul sesosok bayangan yang datang menghampiri longgokan makanan yang dia jaga. “Nah, benar juga, ia datang lagi,” katanya dalam hati. Dan tidak lama kemudian pencuri itu telah bertekuk lutut di hadapannya dengan wajah ketakutan. Diperhatikannya benar-benar wajah pencuri itu. Ada semacam kepura-puraan pada gerak-gerinya.
“Kali ini kau pastinya kuadukan kepada Rasulullah. Sudah dua kali kau berjanji tidak akan datang lagi ke mari, tapi ternyata kau kembali juga. Lepaskan saya,” pencuri itu memohon. Tapi, dari tangan Abu Hurairah yang menggenggam erat-erat dapat difahami, bahawa kali ini ia tidak akan dilepaskan lagi. Maka dengan rasa putus asa akhirnya pencuri itu berkata : “Lepaskan saya, akan saya ajari tuan beberapa kalimat yang sangat berguna.”
“Kalimat-kalimat apakah itu?” Tanya Abu Hurairah dengan rasa ingin tahu. “Bila tuan hendak tidur, bacalah ayat Kursi : Allaahu laa Ilaaha illaa Huwal-Hayyul Qayyuuumu….. Dan seterusnya sampai akhir ayat. Maka tuan akan selalu dipelihara oleh Allah, dan tidak akan ada syaitan yang berani mendekati tuan sampai pagi.”
Maka pencuri itu pun dilepaskan oleh Abu Hurairah. Agaknya naluri keilmuannya lebih menguasai jiwanya sebagai penjaga gudang.Dan keesokan harinya, ia kembali menghadap Rasulullah S.A.W untuk melaporkan pengalamannya yang luar biasa tadi malam. Ada seorang pencuri yang mengajarinya kegunaan ayat Kursi.
“Apa yang dilakukan oleh tawananmu semalam?” tanya Rasul sebelum Abu Hurairah sempat menceritakan segalanya.
“Ia mengajariku beberapa kalimat yang katanya sangat berguna, lalu ia saya lepaskan,” jawab Abu Hurairah.
“Kalimat apakah itu?” tanya Nabi.
Katanya : “Kalau kamu tidur, bacalah ayat Kursi : Allaahu laa Ilaaha illaa Huwal-Hayyul Qayyuuumu….. Dan seterusnya sampai akhir ayat. Dan ia katakan pula : “Jika engkau membaca itu, maka engkau akan selalu dijaga oleh Allah, dan tidak akan didekati syaitan hingga pagi hari.”
Menanggapi cerita Abu Hurairah, Nabi S.A.W berkata, “Pencuri itu telah berkata benar, sekalipun sebenarnya ia tetap pendusta.” Kemudian Nabi S.A.W bertanya pula : “Tahukah kamu, siapa sebenarnya pencuri yang bertemu denganmu tiap malam itu?”
“Entahlah.” Jawab Abu Hurairah.
“Itulah syaitan.”
Posted by: Pak Anshori on: 5 July 2009
Dari Imam Nasa’i meriwayatkan dari Abu Sa’id Al Khudhryi ra. yang artinya :
“Dari Nabi saw bersabda, “Nabi Musa as. berdoa, “Wahai Tuhanku, ajarkanlah kepadaku tentang sesuatu untuk berdzikir kepadaMu”. Maka Allah berfirman, “Ucapkanlah Laa Ilaaha Illalla”. Lalu Nabi Musa berdoa lagi, “Wahai Tuhanku, setiap hambaMu membaca ini, saya ingin sesuatu yang istimewa untukku”. Maka Allah berfirman lagi, “Wahai Musa, andaikata tujuh langit dan penghuninya dan tujuh pelata bumi diletakkan di sebelah timbangan kalimat “Laa Ilaaha Illallah”, niscaya akan lebih berat kalimat “Laa Ilaaha Illallah”, melebihi dari semua itu”.
Dan Abu Ya’la meriwayatkan dari Abu Bakar ra. yang artinya :
“Biasakanlah membaca kalimat “Laa Ilaaha Illallah” dan istighfar, dan perbanyakklah membaca keduanya. Maka sesungguhnya iblis telah berkata, “Aku telah membinasakan manusia dengan dosa, dan mereka membinasakan aku dengan ucapan “Laa Ilaaha Illallah dan istighfar”, ketika dalam keadaan yang seperti itu maka aku binasakan mereka dengan hawa nafsu, dan mereka mengira bahwa dirinya telah mendapat hidayah”.
Dan Ibnu Abid Dunya beserta Imam Baihaqi meriwayatkan dari Abu Hurairah ra. yang artinya :
“Malaikat maut menghampiri seorang laki-laki yang telah mati, lalu ia meneliti seluruh anggota tubuhnya, maka ia tidak menemukan amal kebajikan kemudian ia membelah hatinya, maka ia juga tidak menemukan amal kebajikan di dalamnya, lalu dibuka mulutnya, maka ditemukan lidah yang melekat pada bagian atas mulut sedang membaca “Laa Ilaaha Illallah”, maka diampuni segala dosanya karena adanya kalimat yang ikhlash itu”.
Imam Abu Daud dan Imam Ahmad meriwayatkan dari sahabat Mu’adz bin Jabbal ra. :
“Dari Mu’adz bin Jabbal ra. dari Nabi saw bersabda, “Barangsiapa yang akhir perkataannya (ketika meninggal dunia) becaan “Laa Ilaaha Illallah”, niscaya ia masuk surga”.
Wallahu a’lam.
Posted by: Pak Anshori on: 4 July 2009

Imam Thabrani meriwayatkan dari Abu Darda ra. yang artinya :
“Dari Nabi saw bersabda, “Tiada seorangpun yang membaca “Laa Ilaaha Illallah” sebanyak seratus kali, melainkan akan dibangkitkan oleh Allah pada hari kiamat dengan wajah yang bagaikan bulan purnama, dan tidak ada seorangpun melakukan perbuatan yang lebih utama daripadanya pada hari itu, melainkan yang membaca seperti itu lebih banyak.”
Dari Ibnu Majjah meriwayatkan dari Ummi Hani’ sebagai berikut:
“Dari Ummi Hani’ ra. dari Nabi saw bersabda, “Kalimat “Laa Ilaaha Illallah” itu tidak dapat dikejar oleh amal perbuatan apapun dan tidak pula meninggalkan dosa (yakni) tidak ada amal perbuatan yang lebih utama daripadanya, dan semua dosa dapat dihapus dengannya sehingga tak tersisa.”
Imam Turmudzi beserta Imam Nasa’i meriwayatkan dari sahabat Jabir ra. sbb:
“Dari Jabir ra. dari Nabi saw bersabda, “Sebaik-baik dzikir adalah ucapan “Laa Ilaaha Illallah”, dan sebaik-baik ucapan adalah ucapan “Alhamdulillah”.
Posted by: Pak Anshori on: 4 July 2009
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Hakim dari Abu Hurairah r.a. berkata yang artinya :
Rasulullah saw bersabda, “Perbaharuilah imanmu”. Ditanya, “Bagaimana cara kami memperbaharui iman kami itu, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Perbanyaklah membaca “Laa Ilaaha Illallah”.
Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan dari Utsman bin Malik ra. sebagai berikut :
“Dari Utsman bin Malik ra berkata, “Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan api neraka terhadap orang yang telah membaca “Laa Ilaaha Illallah”, dengan mengharap ridla dari Allah (secara Ikhlash)”.
Dan Ibnu Asakir meriwayatkan dari Sayidina Ali ra. sebagai berikut:
Dari Ali ra. berkata, “Nabi saw telah bersabda, “Jibril as berkata, “Allah swt telah berfirman, “(Kalimat) Laa Ilaaha Illallah itu adalah sebagai bentengKu, maka barang siapa yang masuk ke dalamnya akan aman dari siksaKu”